TUJUAN HIDUP
Melatih Pikiran agar Hidup Bahagia

Tulisan kali ini memperdalam pemahaman tentang melatih pikiran.. sesuatu hal yang dapat dilakukan oleh setiap manusia yang mau berusaha.. =) Pikiran bisa dilatih gitu ??! Bisa dunkkzz.. !

 

— JALAN MENUJU KEBAHAGIAAN
Ketika mengatakan bahwa sikap mental seseorang merupakan faktor utama dalam pencapaian kebahagiaan, tentu saja kita tidak menyangkal bahwa kebutuhan-kebutuhan fisik dasar kita untuk mendapatkan pangan, sandang, dan papan tidak boleh diabaikan. Akan tetapi begitu kebutuhan-kebutuhan dasar tadi terpenuhi, pesan berikutnya jelas sekali kawan : ” Kita tidak membutuhkan uang lebih banyak, kita tidak membutuhkan sukses atau ketenaran yang lebih besar, kita tidak membutuhkan tubuh yang sempurna atau bahkan pasangan yang sempurna — sekarang, saat ini juga, kita mempunyai pikiran, yang merupakan alat terpenting untuk meraih kebahagiaan yang utuh. ”

Tentu saja akan banyak orang yang berpendapat bahwa ini bisa saja suatu penjelasan yang dapat menurunkan minat kita untuk mendapatkan uang, meraih popularitas, tubuh yang paling baik, ataupun kesempatan berbahagia dengan pasangan yang paling sempurna menurut kita.. Tidak sama sekali.. Penjelasan diatas hanya berkomentar bahwa untuk meraih kebahagiaan yang utuh pada hakikatnya kita tidak butuh uang berlebih, popularitas, tubuh terbaik, dan pasangan sempurna, tetapi pikiranlah yang memegang peranan utama ! ( it’s different isn’t it ?.. )

Saat pikiran begitu mempengaruhi, maka kita akan selalu bertanya-tanya kembali, pikiran macam apa yang menghasilkan sesuatu yang baik atau yang buruk ?
Maka, langkah pertamanya adalah belajar. Mula-mula kita harus belajar tentang bagaimana emosi-emosi dan perilaku- perilaku negatif mendatangkan bahaya bagi kita dan bagaimana emosi-emosi positif bermanfaat. kita harus sadar efek buruh dari emosi-emosi negatif tidak hanya merugikan diri sendiri, tapi juga dapat merugikan orang lain, masyarakat, dan bahkan dunia, maka kesadaran kita akan hal ini dapat membantu kita membulatkan tekad untuk mengatasinya. Keadaan yang sama berlaku untuk emosi-emosi yang positif, kita menyadari efeknya dan dengan demikian membantu kita membulatkan tekad untuk mengembangkannya.

Misalnya.. kebencian, iri hati, amarah, dan sebagainya, semua berbahaya. Kita memandang sikap-sikap mental itu negatif karena merusak kebahagiaan mental kita.. begitu kita menyimpan perasaan benci atau sakit hati kepada seseorang, begitu kita membiarkan diri sendiri di kuasai oleh kebencian atau emosi-emosi negatif lain, maka di mata kita orang lain juga akan tampak sebagai musuh. Akibatnya kita menjadi semakin takut, semakin terhalang, semakin ragu, dan merasa tidak aman. Semua tadi berkembang, begitu pula rasa kesepian karena berada di tengah dunia yang kita anggap sebagai musuh. Semua perasaan negatif ini berkembang karena kebencian. Sebaliknya, sikap-sikap mental seperti ramah dan pengasih jelas sangat positif sekali.. Apabila kita mempertahankan sifat pengasih, penyayang, maka ada sesuatu yang secara otomatis membuka pintu hati kita. Melalui pintu itu, kita dapat berkomunikasi dengan jauh lebih mudah dengan orang lain. Dan perasaan hangat menciptakan keterbukaan. Kita akan menemukan bahwa semua orang lain pada hakikatnya sama dengan kita, maka kita akan bisa berhubungan dengan mereka secara lebih mudah. Itu akan memberi kita semangat persahabatan. Maka berkurang pula kebutuhan kita untuk menyembunyikan sesuatu, dan berkat itu, rasa takut, ragu, dan rasa tidak aman akan terhapus dengan sendirinya..

— DISIPLIN MENTAL
Dalam kegiatan apapun, tidak ada yang tidak dapat dibuat lebih mudah lewat pembiasaan dan pelatihan terus-menerus. Lewat pelatihan, kita dapat berubah, kita dapat mengubah diri sendiri. Melalui latihan yang berulang-ulang kita dapat mencapai ke suatu titik ketika suatu kejadian boleh terjadi tetapi efek-efek negatif pada pikiran kita tetap di permukaan, seperti gelombang yang berayun di permukaan laut tetapi tidak berakibat banyak pada bagian yang lebih dalam. Maka, kalau kita menerima kabar tragis, pada saat itu mungkin kita mengalami sedikit gangguan dalam pikiran kita, tetapi gangguan itu berlalu cepat sekali. Atau, kita mungkin merasa kesal dan mulai marah, tetapi sekali lagi kemarahan itu melesap cepat sekali. Tidak ada efek pada pikiran yang lebih dalam. Tidak ada kebencian, ini kita peroleh dari latihan yang bertahap.

— DISIPLIN ETIS
Banyak tokoh spiritual besar menyarankan kita agar melakukan perbuatan-perbuatan yang sehat dan menghindari godaan untuk melakukan perbuatan-perbuatan tidak sehat. Inilah yang disebut dengan disiplin etis. Dan kita tahu bahwa pikiran disiplin mengantar kita kepada kebahagiaan sedangkan pikiran tak disiplin menjurus kepada penderitaan. Perlu ditekankan, sebuah kelompok penjahat mungkin memerlukan disiplin agar perampokan mereka sukses, tetapi itu bukan disiplin yang bermanfaat.
Kita juga perlu memiliki kemampuan untuk menilai akibat-akibat jangka panjang dan jangka pendek dari seluruh perilaku kita dan menimbang keduanya. Sebagai contoh, dalam mengatasi amarah, walaupun hewan juga marah, mereka tidak mampu memahami bahwa marah itu merusak. Namun, pada manusia ada tingkatan yang berbeda karena kita memiliki semacam kesadaran diri yang memungkinkan kita merenungkan dan mengamati bahwa ketika kita marah, emosi itu tidak nyaman bagi kita. Oleh sebab itu, kita dapat membuat penilaian bahwa amarah bersifat merusak. Kita memerlukan kemampuan untuk membuat kesimpulan. Jadi masalahnya tidak sesederhana menaruh tangan di atas api, kemudian terbakar dan memutuskan untuk tidak berbuat hal yang serupa di masa mendatang. Semakin tinggi tingkat pendidikan dan pengetahuan kita tentang apa yang mengantar pada kebahagiaan dan penderitaan, makin efektif kita dalam menemukan kebahagiaan. Jadi, inilah sebabnya pendidikan dan pengetahuan sangatlah penting.. .. ^^

— I’m With You in Spirit ! —
— Niceone —