Tujuan Hidup
Mengembalikan Kebahagiaan

Kepada teman2 yg sekarang merasa tidak bahagia dibandingkan masa lalunya dulu.. semoga tulisan ini dapat membuatnya mendapatkan kebahagiaan yang telah hilang itu.. jelas tidak dalam bentuk yang sama, karena segala sesuatu selalu berubah.. akan tetapi ini adalah salah satu metode yang bisa kita gunakan untuk mengembalikan kebahagiaan yang telah hilang..

Kita semua tahu dan dapat melihat bagaimana sikap mental yang tenang, penyayang, yang positif, mendatangkan pengaruh yang menguntungkan pada kesehatan tubuh dan kesejahteraan kita. Kebalikannya, rasa frustasi, takut, kesal, dan marah dapat merusak kesehatan kita. Kita juga dapat melihat bahwa kesehatan emosi kita meningkat bila kita merasakan sayang. Untuk memahami ini, kita hanya perlu merenungkan apa yang kita rasakan ketika orang lain bersikap hangat dan sayang kepada kita. Atau, amati perasaan yang secara otomatis muncul ketika kita mengungkapkan rasa sayang kepada orang lain. Emosi-emosi lembut dan perilaku-perilaku positif yang menyertai perbuatan-perbuatan kita ini mengantar kita ke terwujudnya keluarga dan masyarakat yang lebih bahagia. Maka, sifat dasar kita seharusnya adalah pengasih.

Stopppp.. sudah tentu km akan bertanya : ” Ini semua terlalu idealis, liatlah dunia sekarang, penuh dengan konflik dan pertikaian. Ini semua hanya angan2 saja. Sifat dasar manusia adalah suka bertikai dan mementingkan diri sendiri. Itulah yang kita lihat bukan ? ” tapi, pernahkah km merenungkannya, terutama ketika mendapat rasa sayang atau mengungkapkan rasa sayang, dapatkah km bilang bahwa rasa nyaman itu ilusi belaka ?

Kita terlalu dijejali dengan pandangan-pandangan negatif disekitar kita.. bahwa setiap orang adalah makhluk yang egois. Ini hanyalah lingkaran setan yang dibentuk oleh mayoritas yang tidak memahami dirinya sendiri. Tidak heran bahwa ada saja orang yang mengikuti pandangan tersebut dan hasilnya dia menjadi pribadi egois yang kita lihat sehari-hari dan berujung pada kita juga akan menjadi sama dengan dia, karena kita meng’iya’kan perilaku orang-orang disekitar kita. Apa yang sebenarnya terjadi adalah karena kecerdasan kita berkembang dengan tidak seimbang serta kecerdasan yang disalahgunakan. Kecerdasan yang tidak diimbangi dengan perkembangan sifat pengasih dapat bersifat merusak dan mengantar kita ke bencana.

Kadang-kadang ketika kita bertemu dengan teman lama, segera kita akan menyadari betapa cepatnya waktu berlalu. Kita juga merenungkan apakah hari-hari kita yang sudah lewat sungguh sudah dimanfaatkan baik atau tidak. Kehadiran kita sehari-hari akan jauh lebih hidup bila disertai dengan harapan, walau tidak ada seorang pun yang bisa menjamin masa depan. Tidak ada jaminan bahwa besok pada waktu seperti sekarang kita masih berada disini. Akan tetapi kita masih bekerja untuk hari besok semata-mata karena harapan tadi. Sedapat mungkin berbuatlah sesuatu bagi orang lain, atau kalau belum sempat, setidaknya berhentilah merusak kebahagiaan mereka.

Jangan berpikir bahwa sy mengajak temen2 untuk menjadi pribadi yang lemah yang identik dengan sifat-sifat lembut. Bayangkan orang tua kita, yang sering kali tegas di luar tapi penuh dengan kelembutan, bahwa itu adalah dua hal yang berbeda. Setiap orang merindukan rasa kasih, entah disadari apa tidak. Perilaku agresif bisa muncul manakala rasa kasih ini tidak ada, yang sering dijadikan alasan pembelaan kita ketika kita berperilaku merusak. Dan semuanya itu tidak akan mengembalikan kebahagiaan, hanya membuat kebahagian tetap menjaga jaraknya terhadap kita.

— Niceone —